Archive for the ‘kisah dibalik Pikatan’ Category

Laporan Rapat AD/ART,
Pancoran, 3 Juli 2007.( 12:30-15:30)

Rapat dihadiri oleh Panitia Ad Hoc,  AE Priyono, Anif Punto, Andy
Yoes, Faiz Manshur.

Sdr Tri Agus (ada halangan keluarga).

Sdr Putut sedang liburan ke Makasar.

Rapat membahas ulang beberapa point dari Drfat akhir. Beberapa hal
diteliti ulang dengan cermat. Ada bagian yang diperdebatankan namun
tidak mengalami perubahan karena substansi masalahnya tidak
“bermasalah”, melainkan hanya membutuhkan penjelasan argumentatif.

Kebanyakan perubahan tejadi pada hal-hal yang sifatnya revisi bahasa,
tanpa mengubah substansi dari isi AD/ART.

Pada satu bagian khusus, yakni usulan dari Irawan (tentang status)
Anggota “pasif”  pada akhirnya diakomodasi dalam bentuk penambahan
pada bagian keanggotaan. Rapat menyepakati tidak ada status anggota
aktif dan anggota pasif karena justru akan menimbulkan dikotomi
status. Nah, akomodasi ide Sdr Irawan tersebut diwujudkan dalam bentuk
penampung para anggota non aktif dalam bentuk kontribusi PEMIKIRAN,
MATERI dan TENAGA. (kejelasan mengenai deskripsi tersebut nanti akan
disampaikan Sdr AE Priyono.

Selain membahas AD/ART kita akan mengadakan acara sosialisasi ke dan
legalisasi ke akta notaris di Temanggung. Acara akan dilaksakan pada
musim liburan tanggal 17-19 agustus. Untuk sementara disepakati
dilaksanakan pada tanggal 18 agustus. (selanjutnya bisa dibahas oleh
kawan-kawan di sini).

Untuk acara deklarasi belum sempat didiskusikan mengingat tahapan
sosialisasi dan legalisasi lebih penting dari pada deklarasi. Dengan
kata lain, deklarasi bisa dilaksanakan setelah sosialisasi dan
legalisasi.

Rapat merekomendasikan agar bagian perusahaan di Jakarta (Sdr Irawan)
bekerjasama dengan bagian perusahaan Stanplat di Temanggung (sdr
Singgih) untuk memimpin pelaksanaan rencana sosialisasi dan legalisasi
tersebut.

Selanjutnya silahkan dibahas.

Salam

AE Priyono
Anif Punto
Andy Yoes,

Faiz Manshur
Putut Trihusodo
Tri Agus Siswowihardjo

Iklan

Stanplat adalah koran komunitas berbasis masyarakat lokal Temanggung. Ciri khas buletin ini menyandarkan pada perspektif studi kebudayaan (cultural studies). Dengan cara yang ilmiah, luwes, kritis, penuh penghargaan terhadap budaya lokal, -kita harapkan pembaca akan larut dalam suasana intim dengan lingkungan sekitarnya,-tempat di mana mereka mengalami kehidupan sehari-hari sebagai orang Temanggung. Dengan cara yang demikian itu, Stanplat diharapkan benar-benar menjadi media publik yang tidak kalah bermutu dengan media massa konvensional.Di bawah ini ada beberapa visi dan tujuan yang kami miliki: n Membangun kultur kehidupan masyarakat Temanggung yang modern, partisipatif dan tanggap terhadap perubahan jaman. n Merangsang tumbuhnya inisiatif lokal yang khas, cerdas dan beradab dalam bidang budaya, agama, sosial, politik, ekonomi, teknologi dan lain-lainn Selain itu, media ini juga memiliki fungsi sosial sebagai, 1) Saluran komunikasi antar sesama warga baik yang berada di Temanggung maupun di luar Temanggung. 2) Sarana pendidikan non akademik.3) alat kontrol kekuasaan politik pemerintah/DPRD. 4) Ajang kreativitas kaum muda dalam berbagai bidang.Buletin Stanplat Temanggung didirikan oleh komunitas migran asal Temanggung. Lahirnya Stanplat dilatarbelakangi oleh dua hal yang paling mendasar. 1) memberikan bacaan rutin yang ilmiah, rasional dan kritis kepada masyarakat lokal Temanggung. 2) Meningkatkan partisipasi publik dalam bidang sosial, politik dan budaya. Buletin ini beredar gratis dengan pertimbangan sebagai berikut:

  1. Minimnya “minat baca” dan “minat beli” masyarakat atas bacaan.
  2. Jika dijual diperkirakan arus edarnya hanya mencapai 400eksemplar. 200 dibeli pelanggan tetap. 200eks dibeli pengecer. Sedangkan selama ini kita edarkan secara gratis mencapai 3200 eksemplar. 2500 beredar di Temanggung. 600 eks beredar di komunitas perantau Temanggung di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Balikpapan, Batam dan Jayapura
  3. Kesulitan mengurus penjualan, terutama para loper, kurir dan penagihan uang.
  4. Komersialisasi bisa mengakibatkan para pembaca sekadar membeli untuk konsumsi bacaan sendiri

Bagaimana Stanplat bisa tumbuh berkembang “mensubsidi” ribuan pembaca?

  1. Penggalian dana melalui sumbangan baik dari orang Temanggung maupun dari luar Temanggung. Fakta yang terjadi, banyak sumbangan uang justru dari luar orang Temanggung
  2. Iuran
  3. Usaha mandiri (produksi kaos) sangat mendukung perolehan uang.
  4. Dengan menggratiskan Stanplat, pengurus lebih merasa bebas mencari penggalian dana secara sukarela. Masing-masing orang sadar bahwa tujuan penggalian dana secara sukarela adalah untuk menyubsidi bacaan bagi masyarakat lokal (desa) yang selama ini jauh dari informasi media cetak.

Apakah pola yang selama ini diterapkan sangat efektif untuk jangka panjang?Jawabnya tidak: Hal ini disebabkan kebutuhan cetak stanplat Rp 3.500.000 tergolong sangat besar dengan jumlah uang yang masuk. Di lain pihak kebutuhan dana operasional untuk meningkatkan kualitas stanplat dan kegiatan di luar keredaksian semakin meningkat. (contoh kebutuhan operasional tim liputan, sekretariatan, pelatihan jurnalistik dll) Apakah iuran bisa jadi alternatif?Jawab bisa ya bisa tidak. Jika iuran bisa rutin digalakkan hingga mencapai hasil Rp 6juta perbulan Stanplat akan terus bisa terbit. Jika berada hanya mencapai Rp 4 juta per bulan kondisi akan Stagnan dengan kualitas yang tidak akan meningkat. Apakah penggalian dana lewat produksi-produksi bisa jadi alternatif?Bisa jika memang ada produksi yang layak dibuat rutin per 3 bulanan dengan perolehan keuntungan 18-20 juta. Apakah ada alternatif dana lain?Mengingat Stanplat ini menyandarkan diri pada gerakan sosial, maka dana funding adalah satu-satunya alternatif lain yang cocok. Apa target kami selanjutnya?

  1. Menerbitkan Stanplat bulanan tetap 16 halaman, kertas koran dengan jumlah mencapai 20 ribu eksemplar.
  2. Menumbuhkembangkan gerakan sosial minimal dalam hal pelatihan jurnalistik, organisasi, ekonomi kerakyatan, diskusi ilmiah (filsafat, ekonomi, politik, kajian agama, sastra dan budaya)
  3. Mengaktifkan perpustakaan di sekretariat Stanplat sebagai sarana “sekolah alternatif” masyarakat (khususnya kaum muda) Temanggung.  Di sini kami membayangkan ada ratusan/ribuan buku, berlangganan beberapa koran nasional/lokal, majalah, jurnal. (Faiz Manshur)

Warga Temanggung di Jagat Maya

Tahun 1997-an bukanlah mudah menjelaskan apa itu internet bagi orang-orang desa. Saat itu internet masih terbatas di kota-kota besar. Baru kemudian tahun 2000an kata internet mulai terdengar oleh orang-orang yang berada di kota kecil, seperti Temanggung.

crew-stanplat.jpg

(lebih…)

Saat menyusun AD/ART, perancang AD/ART sering berdiskusi tentang bagaimana desain gerakan lokal organisasi PIKATAN ini. Berikut salahsatu potongan diskusinya: (baca dari bawah) (lebih…)

Mas Adi,

Kenapa Temanggungan, bukan Temanggung saja? (lebih…)

Berkenaan dengan pembahasan nama organisasi, ada dua istilah penting yang akan dipakai. Komunitas dan Kadang. Berikut ini diskusi para calon pendiri PIKATAN di millist. (baca dari bawah): (lebih…)