Tulisan ini agaknya perlu dihadirkan ke blog ini sebagai cara untuk memperkenalkan komunitas Temanggungan, terutama menyangkut dengan penerbitan Stanplat. Ternyata sekalipun sudah hampir masuk usia 4 tahun,sebagian warga Temanggung, terutama mereka yang di rantau belum mengenal aktivitas Perkumpulan Independen Komunitas Temanggungan (PIKATAN).

Stanplat Temanggung dan Gerakan Lokal

Oleh Faiz Manshur (Pemimpin Redaksi Stanplat)

Setelah dua tahun berjalan, komunitas warga Temanggung di rantau yang kini memiliki organisasi sosial PIKATAN (Perkumpulan Independen Komunitas Temanggungan) setiap hari selalu disibukkan oleh urusan organisasi. Mulai dari urusan rapat redaksi Stanplat, pembentukan pengurus organisasi, sosialisasi, penggalangan dana hingga diskusi tentang politik menjadi kegiatan sehari-hari. Melalui saluran millist pikatan@googlegroups.com kami bergerak melakukan aktivitas gerakan transformasi sosial.

Melalui media komunitas bernama Stanplat, kami bekerja menerbitkan bacaan gratis untuk rakyat Temanggung. Dua puluh dua edisi telah kami terbitkan sejak 29 Juni 2006 silam. Stanplat terbit setiap bulan 3000-eksemplar. Sebagian besar diedarkan ke masyarakat Temanggung, sebagian lagi ke para perantau asal Temanggung di berbagai kota di Indonesia. Sebagian kecil lagi kami sebarkan ke masyarakat non Temanggung, terutama kelompok LSM di Jakarta.

Mengapa media lokal? Kenapa gerakan perantau?

Salahsatu kebutuhan masyarakat modern adalah bacaan. Demokrasi butuh bacaan, terutama bacaan independen yang kritis dan berani. Kontrol kekuasaan tidak cukup hanya dengan teriak di jalan saat ada kebijakan publik menyimpang. Media akan lebih efektif dan kontinyu mengangkat isu-isu publik tanpa harus mengeluarkan energi banyak.

Lebih enaknya, mengelola media di jaman internet seperti sekarang ini jauh lebih mudah ketimbang mengurus kegiatan lain yang mewajibkan kita bertatap muka. Mengurus media cukup nongkrong di depan komputer. Dilengkapi alat komunikasi telepon seluler dan kecanggihan teknologi lain, kegiatan menerbitkan buletin Stanplat berjalan lancar.

Sedangkan untuk urusan dana memang tidak bisa melulu mengandalkan internet atau telpon, melainkan harus melalui jalur lobi personal maupun komunal dalam acara tatap muka yang terencana.

Pun kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi sudah banyak membantu kegiatan manusia, para awak redaksi maupun awak perusahaan Stanplat tetap harus rela sibuk bekerja di luar dunia maya. Beban bertambah?

Beban atau tidak itu relatif. Sebagian besar aktivis pengelola buletin Stanplat tidak menganggap kegiatan sosial ini sebagai beban, melainkan sebagai hiburan positif.

Keintiman lokal

Melalui “sentimen primordial” (hubungan sesama warga asal Temanggung), kami mampu membangun solidaritas sosial dalam rangka memberikan kontribusi kepada masyarakat temanggung yang berpenduduk 700ribu jiwa. Di kabupaten Temanggung Jateng, jumlah arus edar semua koran, majalah, tabloid dll tidak mencapai 900-eksemplar. Sementara buletin Stanplat yang terbit setiap awal bulan itu mencapai 2500eksemplar.

Setiap lurah, setiap camat, siswa-siswi SMU, SMP, MA dan kaum santri, termasuk para kyai yang selama ini hanya baca kitab kuning akhirnya baca Stanplat. Para aktivis ormas NU, Muhamadiyah, aktivis partai politik juga kebagian jatah Stanplat gratis. Dengan model menyajikan bacaan gratis, rakyat Temanggung punya bacaan yang khas, unik dan kritis: Cerdas, Akrab dan Tanggap.

Sebagai penjaga dapur redaksi, saya merasakan betapa besar manfaatnya menerbitkan Stanplat untuk orang Temanggung. Mereka yang selama ini jauh bacaan pada akhirnya merasa memiliki pemikiran baru, wacana baru dan situasi baru karena kehadiran media lokal. Banyak hal dari desa-desa pelosok yang selama ini tidak tercover oleh media konvensional akhirnya terangkat oleh Stanplat.

Buletin 16 Halaman ini sengaja kami hadirkan dengan nuansa khas lokal Temanggung. Istilah maupun teks penulisan sebagian kami ‘desain’ dalam konteks komunikasi dengan kaum lokal. Mengambil semangat kitabiah, “setiap nabi selalu berbicara dengan bahasa kaumnya.”

Dengan cara ini keintiman antara author dengan audience dapat berlangsung baik dan tidak terkesan membaca sebuah berita yang selama ini nampak jauh. Maklum, Selama ini masyarakat desa kebanyakan hanya menjadi konsumen berita yang kebanyakan muncul dari ruang publik kota. Dengan hadirnya nuansa khas lokal pada Stanplat, mereka merasa bahwa diri mereka pun mampu menjadi bagian ‘aktor’ media.

Kalaupun tidak diri mereka yang masuk ke dalam liputan Stanplat, paling tidak orang-orang dekat mereka; tetangga, saudara, teman karibnya ternyata bisa jadi ‘aktor’ yang tampil di media. Bagi mereka, soal berapa jumlah arus edar media dan jangkauan publikasi tidak dipersoalkan. Yang penting setelah tampil di Stanplat, eksistensi mereka setidaknya tidak marginal lagi.

Ranah politik

Pada level ruang publik politik keberadaan Stanplat selama dua tahun terakhir ini jelas banyak memberikan konstribusi kepada masyarakat. Paling tidak karena Stanplat secara terbuka mampu menyampaikan unek-unek dan pemikiran ngganjel yang selama ini terpendam. Melalui Stanplat, segenap kemarahan atau aspirasi yang tidak tersalurkan kepada pemerintah setidaknya terwakili.

Sedangkan dalam pandangan para pejabat, terutama Bupati, Pegawai Pemda dan Anggota DPRD, Stanplat sendiri sudah menjadi bagian dari “hantu” yang menyeramkan. Sebagian sering marah karena kelugasan Stanplat dan mengkritik. Namun sebagian merasa sadar bahwa apa yang dilakukan Stanplat sebenarnya tidak berbeda dengan apa yang dirasakan rakyat.

Kedua hal yang terakhir ini bukanlah asumsi, melainkan kenyataan di lapangan di mana penulis selama ini memang berhubungan dekat dengan para anggota DPRD, Bupati dan beberapa pegawai Pemda. Mereka pada prinsipnya senang kehadiran bacaan di Temanggung, namun sering merasa jengkel karena beberapa hal yang dilakukan terpublikasikan secara umum.

Harapan dan kecemasan

Mengelola media massa bukan perkara gampang. Kebutuhan SDM yang banyak dan dana yang tidak sedikit serta sulitnya berharap iklan adalah perkara yang lazim kita hadapi. Solusi yang biasa diterapkan para pengelola media komunitas adalah dana funding. Tak perlu ditutup-tutupi, pengelola Stanplat pun punya harapan akan suntikan dana hibah tersebut. Namun selama ini kita sudah cukup mampu “mandiri” tanpa penyandang dana sebuah lembaga.

Penyandang dana kita selama ini sebagian adalah mengandalkan kebaikan hati ratusan perantau asal Temanggung di berbagai kota di Indonesia untuk berlangganan Stanplat dan “membayar” tanpa ketentuan tarif resmi.

Satu orang mendapat kiriman buletin setiap bulan. Tarif pembayaran sesuka dan semampunya. Sebagian uang Stanplat kita gali melalui acara penggalang dana, memanfaatkan acara gelar Budaya TMII dan sedikit pemasukan melalui iklan.

Beruntung kemampuan mereka “membayar” tidak dihitung oleh harga cetak, melainkan oleh semangat berderma bagi kelangsungan Stanplat. Alhasil, terkadang mereka menyumbang; mulai dari Rp 50ribu hingga Rp 300ribu, tak jarang ada yang menyumbang Rp 1-2 juta. Memang, donatur  tidak menyumbang rutin setiap bulan. Namun dari putaran puluhan, bahkan ratusan pelanggan, donasi tetap berjalan.

Kebutuhan dana cetak Stanplat dengan operasional setiap bulan kurang lebih Rp 5,5juta. Sekalipun pengurus di bagian perusahaan sering mengeluh karena minimnya dana, namun pada kesimpulan akhirnya adalah mampu. Faktanya, Stanplat tetap terbit, bahkan hingga 22 kali: -serupa dengan media-media komunitas atau medianya pekerja LSM yang biasa kuat bertahan dalam hitungan di bawah 20 edisi.

Namun jujur harus diakui, baik saya maupun kawan-kawan di Stanplat, tetap merasa banyak yang kurang. Bahkan cemas jika suatu ketika aliran dana seret dan tidak mampu menjaga konsistensi kolektif untuk terus mengembangkan Stanplat.

Perolehan dana dari iklan Iklan,–terutama pencari iklan di Stanplat,- masih belum beres. Pemasukan dari iklan bisa dibilang baru mencapai antara 10-20 persen dari keseluruhan pemasukan dana.

Lebih dari sekadar urusan dana, sebenarnya media komunitas seperti Stanplat banyak diuntungkan oleh peranan personal. Dari sisi keredaksian,-tanpa disengaja,- Stanplat kehadiran orang-orang asal Temanggung yang kebetulan banyak bergulat di dunia pena.

Sebut saja AE Priyono (Peneliti Demos), Putut Trihusodo (Wapimred Majalah Gatra), Tri Agus Siswowihardjo, Andy Yoes Nugroho (Mantan Aktivis PIJAR), Mohammad Asadi (Ketua PWI Temanggung, Wartawan Republika), Anif Punto Utomo (Redaktur Republika), Agung DH (Aktivis PersMahasiswa UNJ), Lis Dhaniati (Wartawan Kompas) dan lain sebagainya. Saya sendiri termasuk bagian dari pekerja pers.

Pada bagian perusahaan rata-rata diisi oleh aktivis dari kalangan pekerja di kantor yang punya waktu mengakses internet setiap hari.

Tentu bukan hanya karena alasan kemampuan akses internet mereka terlibat aktif. Jiwa sosial yang tinggi sangat mendorong keterlibatan mereka dalam menggali dana dan mengurus hal-hal keorganisasian.

Sebut saja Joko Suseno beserta istrinya (Humas BCA, Jakarta), Irawan Prasetyadi beserta istrinya (Karyawan TI Perusahaan milik orang Jepang di Tangerang), Falakiyatun Muniroh (karyawan swasta di Tangerang), Fahrudin (Pegawai BUMN), Agus Pramono (Pengusaha), Silvester hardanny (Informedia) dan lain sebagainya.

Dari hari ke hari, seiring luasnya arus edar Stanplat, SDM dari kalangan akademisi juga makin banyak yang datang berkumpul ke Stanplat. Lazimnya sebuah terminal, pada awal pembangunannya sangat sepi, namun di kemudian hari sangat ramai. Bahkan SDM-SDM di luar Temanggung pun tertarik berkonstribusi.

Glokalisasi

Para jurnalis yang kebetulan juga mayoritas aktivis memungkinkan bekerja sosial untuk perkembangan media lokal ini. Sedangkan para karyawan dan pengusaha swasta yang nota bene memiliki kemampuan dalam mengurus organisasi dan menggalang dana jelas adalah komponen yang menyukeskan gerakan lokal berbasis media massa di Temanggung ini.

Masing-masing komponen saling percaya dan menjalankan tugasnya masing-masing tanpa perlu banyak pelatihan dan koordinasi. Beraktivitas tanpa kantor menyadarkan setiap anggota harus banyak berinisiatif, kreatif dan terus meningkatkan kemauan bekerja.

Transformasi sosial, kontrol publik, mengangkat problem kemiskinan, memajukan pertanian, membangun kualitas SDM yang selama ini hanya menjadi “ideologi” para aktivis pergerakan di kota-kota besar dan berlangsung di kota besar dengan secara otomatis menyusup ke desa-desa.

Gerakan sosial lokal ini memiliki keunggulan karena fokus pada satu teritori. Fokus dan konsistensi gerakan di suatu tempat sangat diperlukan di tengah-tengah “keliaran isu nasional”.  Melalui segmen lokalitas inilah tumbuh jejaring yang kuat berbasis tradisionalitas. Primordialisme, -asal dikelola dengan baik,- akan berubah menjadi solidaritas sosial yang baik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s