Tembang itu untuk Siapa?

Posted: November 22, 2007 in cerita

Kenangan masa kecil memang sulit berlalu. Terkadang masih sering terngiang ditelinga. Atau sekilas berklebat di depan mata. Serasa baru kemarin saja terjadinya. Karena tersiar kabar Gudang Kebon (Kebun Arum) akan dibom Belanda, keluargaku terpaksa mengungsi ke tetangga depan rumah. Benar, tak lama kemudian terdengan peluru berdesingan kesana-kemari tak menentu. Diseling bau mesiu yang menyengat. Tapi sasaran yang akan dibom selamat. Sebab Cocor Merah (pesawat tempur musuh) tak kunjung datang.

Dasar anak, begitu pertempuran usai, langsung menghambur keluar rumah berebut selongsong peluru. Tak peduli AR-an (sekarang BCA) baru saja dibumi hangus. Bara apinya masih menyala. Siapa bisa mengumpulkan terbanyak, wah bangganya kayak Napoleon menang perang.

Clash II tak kunjung berhenti. Keluargaku ngungsi lagi. Kali ini keluar kota. Solo yang dituju. Di tempat ini, kudapatkan dunia baru. Aku senang bermain dengan anak-anak kampung. Nembang riang bersama. Mendengarkan gamelan berbarengan. Tak heran, kalau sampai saat ini aku masih senang mendengarkan klenengan. Bahkan masih ingat beberapa lirik lagu dolanan. E ngantene teko, e gelarno kloso, e klosone bedah, e tembelen jadah, e jadahe mambu, e pakakno asu, e asune mati, e kelekno kali, e kaline banjir, e kelekno pinggir, e pinggire asat, e sori aku tak ingat. Ha, ha, ha …. Riuh sekali saling bersahutan. Berusaha terus agar rekan tak bisa nyambung.

Menginjak remaja, aku senang membaca roman bahasa Jawa karya Ani Asmoro. Pengarang kondang saat itu. Hobi ini membuat bahasa Jawaku makin lancar. Apalagi sering kudapatkan kala warti Panyebar Semangat dalam tumpukan koran bekas kiloan. Sampai-sampai teman-teman kelasku heran, nilai ujian bahasa Jawa yang kudapat di SMA bagian A (sastra dan budaya) 7. Banyak yang mendapat nilai di bawah itu. Padahal ujiannya masih murni, tanpa rekayasa segala.

Yen ing tawang ono lintang cah ayu … Tiba-tiba seorang pengamen muncul di depan rumahku. Mengusik ingatanku sehingga teringat beberapa lagu langgam Jawa Waljinah. Aku juga ingat “Sewu kutho” yang dinyanyikan Widi dalam konser AFI. Ingatanku terus liar berkelana, sampai kuingat lagi tembang Ilir-ilir. Tembang yang berisi ajaran hidup yang berharga.

Ilir-ilir tandure wis sumilir

Tak ijo royo-royo

Tak sengguh pengantin anyar

Bocah pangon 2x penenkno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekno
Kanggo mbasuh dodot iro

Kanggo sebo mengko sore

Mumpung jembar kalangane

Mumpung padang rembulane

Yo  surako surako hayo

Aku tahu tembung ini mengajarkan begini :

Tanaman yang hampir dipanen tampak hijau di mana-mana

Bagaikan pengantin baru yang gembira menyosong masa depan yang cerah

Anak gembala (wong cilik) tolongan carikan blimbing (lambang iman yang kuat)

Sebab kalau jadi pamong imannya harus kuat.

Meskipun sulit mendapatkannya (lunyu)

Untuk mencuci bersih pakaian (lambang kepercayaan)

Untuk menghadap Sang Pencipta

Senyampang masih mampu dan sempat

Marilah kita lakukan bersama-sama.

Tembang itu terus terdengar. Melintas gunung dan lembah. Menyeberang laut dan sungai. Juga mendatangi kita semua. Semoga nurani kita terusik. Mau menyadari jadi pamong itu harus beriman kuat. Sebab kalau tidak, bisa kualat. (Haryono, Guru SMK Mahesi Temanggung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s