Temanggungku tak sebersih dulu lagi

Posted: November 22, 2007 in cerita

 Seberkas sinar mentari mengintip lewat celah jendela kamarku. Sesekali sinarnya meredup terhalang sekumpulan awan yang terbang lewat tertiup angin pagi. Tapi itu hanya sejenak dan 10 detik kemudian sinar yang meredup itu akan nampak kembali bahkan bersinar lebih terang karena sang mentari merangkak lebih tinggi.  Berkas cahaya itu tidak hanya mengintip saja tapi juga menyusup lewat lubang-lubang kecil tirai kamarku, membangunkan aku dari bius gelap malam yang membuatku terlelap dalam tidur. Sinarnya yang terasa begitu terang menyilaukan mataku tapi juga memberitahuku kalau hari ini adalah hari yang sangat cerah. Burung-burungpun tak mau kalah, berkicau riang seolah mengajakku cepat-cepat beranjak dari tempat tidurku.

Dan mereka menang, bisa membuatku mengalahkan kantuk yang masih ingin memejamkan mataku dan kembali menyeretku dalam tidur. Kubuka lebar-lebar kelopak mataku, kamarku tampak begitu terang oleh sinar mentari tadi, kuhirup pelan udara pagi. “Uuh …”bisikku sambil menikmati segarnya. Temanggung tercinta … udara paginya terasa sangat sejuk, polusi belum mencemarinya. Tak seperti di kota-kota besar, pagi buta pun, sudah penuh asap kendaraan. Kulangkahkan kakiku keluar, menikmati udara sekeliling. Jalanan masih sepi. Satu dua orang terlihat asyik jogging pagi. Udara masih sangat bersih. Pepohonan terlihat begitu tegar berdiri di pinggiran jalan, berbaris berdertan seolah sedang antri beli tiket.

Daun-daunnya masih basah oleh embun, hanya sebagian tampak kekuningan terpantul oleh cahaya mentari yang belum seutuhnya menyinari. Hanya beberapa sudut kota saja yang terlihat terang, tapi itupun sudah membuat kota ini terlihat lebih segar (setidaknya mengalahkan kota Jakarta yang tidak bisa puas menikmati sinar mentari pagi, karena terhalang gedung-gedung tinggi pencakar langit yang berdiri di sepanjang jalan). Ditambah lagi dengan suara gemercik air sungai, semakin semarak saja pagi ini.

“Oh …lihatlah ! Temanggung-ku baru bangun. Pagi ini Temanggung indah sekali”

Tapi semua keindahan ini hanya sementara, hanya bisa dinikmati selama mentari masih ada di pojok timur sana. Satu jam lagi … dua jam lagi … atau tiga jam lagi … dan berjam-jam setelah ini, semua keadaan itu bisa berubah total 180 derajat. Saat para penghuni Temanggung sudah memulai aktivitasnya.

 Sungai dan selokan yang mengalir jernih dan gemerciknya yang menambah semarak, tiba-tiba berubah manjadi aliran air yang memantulkan warna-warna pelangi karena kandungan minyak yang ada didalamnya. Belum lagi, dengan sampah-sampah yang ikut berenang mengikuti aliran air suangi/ selokan. Sungai/ selokan yang semula airnya bersih dan jernih berubah menjadi keruh karena kebanyakan orang menjadikannya tempat sampah. Tanpa mereka sadari kebiasaan turun-temurun itu bisa merusak sungai/ selokan dan ekosistem yang ada didalamnya. Begitu mudahnya mereka mengarahkan keranjang sampah mereka ke mulut sungai/ selokan, membiarkan isi didalamnya habis jatuh ke bawah, mereka tidak pernah berpikir suatu hari sampah-sampah itu bisa menumpuk, mengganggu kelancaran arus sungai/ selokan, juga dengan bau busuk yang ditimbulkan. Bukankah hal ini sangat menganggu ? Apalagi kalau airnya menggenang, bisa menjadi sarang penyakit. Alangkah lebih baik, jika kebiasaan buruk itu mulai dihilangkan sehingga tidak dijumpai lagi sungai ataupun selokan yang penuh sampah. Lebih bagus lagi, kalau masyarakat bekerja sama membersihkan sungai/ selokan supaya aliran airnya tetap lancar dan bersih. Karena jika sungai-sungai di Temanggung bersih, otomatis Temanggung ikut bersih, dan kita pun nyaman tinggal di dalamnya. 

Melangkah lebih jauh lagi…ada banyak tempat umum yang dijadikan tempat curhat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Fasilitas-fasilitas umum yang dibangun dengan indah dan dicat bersih, harus tercermar tulisan-tulisan tidak penting perbuatan tangan-tangan kotor orang-orang tidak bertanggung jawab. Daripada corat-coret sembarangan tempat seperti di dinding halte bis, batang pohon pelindung pinggir jalan atau di fasilitas-fasilitas umum lainnya, bukankah lebih baik, dikirimkan ke redaksi majalah (he…) belum lagi tulisan-tulisan kotor, umpatan tidak sopan, seharusnya tidak dibiarkan terbaca oleh masyarakat dengan disuguhkan lewat coretan pada fasilitas umum. Lalu sampai kapankah tangan-tangan jahil itu akan berhenti beraksi ? Kenapa mereka tidak bisa diajak bekerja sama untuk menciptakan Temanggung yang indah dan enak dilihat. 

Dan satu hal lagi…yang terparah, polusi !!!

Udara pagi yang terasa bersih dan sejuk berubah menjadi kotor, terasa pedih dan menyesakkan dada. Bukan oleh polusi asap kendaraan, juga bukan oleh polusi asap pabrik. Tapi kotor oleh asap rokok. Berlalu-lalang, kesana-kemari, disana-disini banyak dijumpai kaum adam yang melenggang menikmati jalanan sambil menyebar polusi. Bukan orang-orangnya yang menyebabkan polusi tapi benda yang dihisap mulut merekalah yang penyebabnya. Kertas yang dibentuk seperti tongkat kecil membungkus racikan berbagai rempah-rempah yang salah satunya bahkan hasil utama Temanggung.

 

Rokok namanya. Sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat. Bukan barang aneh lagi. Bahkan semua lapisan masyarakat mengenalnya. Tidak peduli konglomerat, tidak peduli rakyat miskin. Tidak hanya di kalangan pejabat, tapi juga di kalangan petani. Tidak hanya bocah kecil tapi kakek tua rentapun tahu. Rokok bahkan sudah menjadi kebutuhan, bahkan bisa menjadi barang yang sangat penting bagi yang sudah kecanduan. Tak disangka barang sekecil itu bisa membuat dampak besar. Barang yang ukurannya sepele tapi bisa menjadi sangat mematikan. Memang kelihatannya semua baik-baik saja, tapi tanpa kita sadari, sudah terlalu banyak orang yang jantung dan paru-parunya terkena polusi. Lebih pedih lagi, saat harus menjumpai segerombolan anak-anak laki-laki yang masih berseragam, lagi…lagi…rokok! Ikut nimbrung bersama mereka. Wah …wah… barang satu ini sudah meracuni penghuni Temanggung tanpa mengenal umur. Kenapa rokok bisa sehebat itu ?

Membuat orang-orang tak bisa meninggalkannya atau memang masyarakat kita yang belum sadar akan bahaya rokok ? Lalu sampai kapan penghuni Temanggung membiarkan jantung mereka terpolusi ? Haruskah sampai penyakit kanker menghampiri raga ? Pelan tapi pasti, rokok hanya akan merusak tubuh. Kalau penghuni Temanggung rusak bukankah Temanggung juga akan rusak ? Hanya orang waras yang tidak membiarkan kota tercintanya kotor dan rusak. Jadi, marilah kita bekerjasama membangun Temanggung, menjadikannya bersih …bukan hanya secara lahiriah tapi juga secara batiniah. HIDUP TEMANGGUNG … BERJAYALAH TERUS !!!! ( Ani Purwanti, Jl. Letnan Suwaji No. 38 Parakan – Temanggung 56254)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s