Apa kata Tetangga? Apa Kata Dunia?

Posted: November 22, 2007 in cerita

           Ayo kita menimbang mana yang lebih abot menonton televisi atau bermain. Tetapi timbangan ini bukan untuk kita melainkan untuk anak kita. Kita kita ini sudah tidak perlu diukur kadar berat nonton televisinya, soalnya dulu sewaktu cilik kita ini ndeso banget. Nonton televisi tiap malam nebeng di tetangga. Sampai sampai tetangga  bosan melihat tampang kita yang sering mengotori kaca jendela tetangga dengan abab kita.

            Hayo ingat kan ? Sampeyan dulu kalo ndelok tivi mepet kaca jendela tetangga sampai kacanya blang blentong.

            Tapi sudahlah jangan khawatir ini tidak akan saya ungkit-ungkit lagi. Soalnya ada yang lebih serius dari sekadar mengingat pola nonton televisi sampeyan. Ya, pola nonton televisi anak – anak dan pola bermain anak – anak yang secara kodrati musti terlaksana. 

            Aku yakin sampeyan punya pikiran bahwa banyak menonton televisi akan banyak menambah pengalaman. Betul?

Apa persoalannya sederhana macam begitu? Tetapi apakah sampeyan juga berpikir bahwa dengan berjam-jam duduk di depan televisi membuat anak kita jadi individual? Televisi dan anak adalah komunikasi satu arah. Semakin banyak televisi ‘berbicara’, semakin pasiflah anak kita. Semakin bagus acara, semakin asyik menyendiri anak kita.  Tetapi keadaan macam begini biasanya sering tidak kita sadari efek sampingnya. Biasanya kita mau ambil enaknya saja. Anak di depan layar gelas, tidak menggangu kegiatan kita juga berarti tidak bermain jauh-jauh.

Nah, celakalah kita. Ketika televisi menggantikan waktu bermain anak. Anak bermain adalah alami. Tanpa bermain kita tidak akan pandai begaul, bermasyarakat, juga kelincahan motorik tubuh kita. Isih kelingan permainan Sudah mandah di kampung dulu.

            Permainan yang nampaknya begitu sederhana. Mencari tempat yang lapang, bisa di halaman rumah yang masih tanah atau di teras rumah yang sudah berlantai semen. Kala kita kecil dulu kalau ada teras yang sudah bersemen halus rumah itu sudah tergolong mewah. Ambil kapur kita buat garis. Mau sudah mandah Kaji atau Payung atau Tangga? Monggo terserah. Tetapi yang jelas saja dari permainan yang nampaknya sederhana ini, anak-anak sudah terlatih gerakan keseimbangan. Masih ingat to cara bermain sudah mandah ini. Ya kakimu angkat satu, atao ingkling lalu thing, thing.. byoh.

            Atau ayo kita coba permainan yang lain. Dolanan gambar gabur. Dengan bermain ini kita bisa berinteraksi dengan empat kawan atau lebih. Dalam bermain seperti ini kita akan dilatih berkomunikasi dan bermasyarakat. Bukankah dalam kelompok bermain sering ada anak yang urik? Untuk memudahkan ingatan, aku dulu punya teman namanya Roni kalau bermain bur, gambar digabur, ingat ya? Selalu tidak pernah kalah. Tau kiatnya? Gambarnya dibuat bolak balik dengan dilem. Nah ini salah satu bentuk urik.

            Dalam bermasyarakat atau bermitra kerja sekarang ini –saat kita telah dewasa. Banyak kita temui orang-orang yang lebih urik. Nah, beruntunglah yang dulu sering bermain dolanan gambar seperti ini, karena apa? Mengantisipasinya sudah tidak begitu sulit.          Ah masih banyak lagi dolanan-dolanan yang menghantar  kita ke alam dewasa tanpa kita sadari. Tetapi hal seperti ini sekarang sudah jarang terjadi. Di kota besar tempat bermain sudah kalah dengan mal mal. Di kampung-kampung sudah kalah pamor dengan televisi atau PS dan sejenisnya. Nah sekarang kembali ke timbangan nonton televisi dan bermain.

Menonton televisi adalah teman bermain modern saat ini. Meski acap kali bahwa menonton televisi menjadikan anak individual dan agresif tindakannya. Apakah sampeyan siap hidup tanpa telivisi atau sederhananya mau sampeyan di rumah tanpa ada televisi? De’e pasti ngomong, Apa kata tetangga?

            Tetapi ada yang lebih mengagetkan jika anak-anak kita tidak bisa bergaul dan berkomunikasi karena tidak pernah bermain. Jadi memang benar kata Nagabonar, Apa kata dunia?     (muhisom setiaki)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s