Amben

Posted: November 22, 2007 in cerita

            Judul di atas kedengaran aneh dan asing di telinga orang Temanggung saat ini. Wis kelingan apa itu amben? Yah, bener. Bahasa modernnya, bed (tempat tidur). Sekilas pengertian amben hanya tempat kita merebahkan diri, tidur pulas lalu ngorok. Padahal kalau kita gali lebih dalam punya makna yang cukup luas.  Dulu sekitar tahun tujuhpuluhan hampir setiap rumah punya amben besar di ruang tamu. Yah, kamu yang asli ndeso pasti kelingan. Nah, asyik kan mengingat-ingat nostalgia amben. Amben menjadi terminal bocah bermain seusia lima tahun sampai sepuluh tahun. Kalau yang sudah besar tentu akan dimarahi Simbah jika bermain di amben. Bisa-bisa plupuhnya ambrol tidak kuat menahan beban.

            Plupuh, kata asing lagi buat kamu kita. wong Temanggung yang ada di kota. Atau wong asli Temanggung nang ndeso sing sok ngotani.Amben dan plupuh ibarat tumbu dan tutup, atau bahasa gaulnya ibarat Romeo dan Juliet. Bahasa wong Temanggungan ada plupuh ada tinggi. Semakin lama plupuh dipakai, semakin lembab amben di ruang semakin banyak tinggi bersarang.

            Kelingan to kamu, wis rausah isin barang, kalau dulu tempat tidurmu banyak tingginya. Eh, tinggi, kamu malah ndak tahu, itu lo kepinding.        Amben akan punya peran penting jika bulan puasa  tiba. Seluruh keluarga akan mengadakan acara ritual sahur bareng-bareng di amben. Bapak akan mengambil nasi dan lauknya diteruskan si mbok lalu anak-anak. Semua makan sahur di amben. Malahan adik kita yang paling kecil ikutan sahur di amben masih dengan mata merem disuapi si mbok.

            Hari raya bodo tiba, amben punya tugas lebih berat lagi. Sebuah keluarga yang punya anak di rantau, biasanya Lebaran pulang semuanya. Terus di mana tidur mereka, ya semuanya tidur di amben. Asyik konser ngorok tetapi tetap akrab dan guyub di warnai dari tidur di amben bareng.            Amben milikmu yang hoyak-hayek itu ternyata punya banyak kenangan. De’e ingat kan? Sewaktu dulu bapakmu sambil dahar siang di amben menasihatimu. Kamu dan adik-adikmu atau kakakmu duduk di bawah sedang ibumu duduk di waton. Kamu merasa diperhatikan, setengah hari kegiatanmu ditanyakan. Pelajaran di sekolah diulang.  Nah, keharmonisan ternyata dimulai dari amben. Kata yang sudah dilupakan ini ternyata punya makna yang luas. Bagaimana kalau sekarang kita menggunakan spirit amben ini untuk kehidupan. Bukankah dulu kita merasa tenteram, dipedulikan karena sentral pertemuan dengan keluarga dari amben ini.

            Saat ini aku percaya sudah tidak ada lima persen orang Temanggung yang punya amben. Tetapi kita tidak akan melupakan amben demi keharmonisan, kekeluargaan, keakraban. Kita songsong dunia yang morat-marit ini dengan amben. Hidup Amben. (muhisom setiaki)

 

Iklan
Komentar
  1. Danang berkata:

    mas saya copas ke group temanggung di facebook ya, biar ada cerita

  2. Solo berkata:

    om numpang mampir…
    kalau mau datanglah ke solo. tepatnya di pasar kliwon. di setiap rumah pasti ada AMBEN. ada yang 6×6 meter bahkan lebih. tapi temanggung ya mungkin tidak sampai 5% saja (itu menurut perkataan om lhoo hehehe…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s