Tlogopucang Merdeka?

Posted: Agustus 22, 2007 in cerita

         Begitu memasuki perbatasan desa, nampak gapura bertulisan Tlogopucang Muttaqin, jelas sekali bahwa itu merupakan identitas desa. Tulisan itu bukan hanya simbol tapi dapat dibuktikan begitu memasuki desa nampak bangunan masjid yang besar dan megah.

         Desa yang masuk wilayah Kecamatan Kandangan ini, dengan jarak sekitar 4 Km dari ibu kota kecamatan setiap bulan agustus selalu mengadakan peringatan hari kemerdeka RI. Bukan aneh, tapi ini nyata peringatan hari kemerdekaan yang biasanya selalu diperingati tiap tanggal 17 Agustus, di Tlogopucang justru pada tanggal 18 Agustus.

         Nampak arak-arakan yang menampilkan semua aktifitas masyarakat ikut terlibat dalam pawai, mulai dari TK, Ormas, Karang Taruna, Petani, Kesenian semua turun ke jalan memeriahkan acara. Dari masing-masing dusun tampil dengan gaya dan kreasinya sendiri-sendiri dengan jalan kaki menuju lapangan upacara, kecuali anak TK dengan naik kendaraan.

         Walaupun lapangan upacara terlihat berdebu tebal tapi tak mengurangi semangat patriotismenya. Padahal ketika ada orang lewat ataupun rombongan pawai jelas sekali debu berterbangan, bagi orang luar mungkin harus memakai masker atau mungkin penutup hidung biar tidak kena radang tenggorokan.

         Pramono, 35 tahun, guru di SMP Tlogopucang sekaligus sebagai tim penilai perlombaan pawai mengatakan “masyarakat sangat haus hiburan, soalnya mereka selalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari sebagai petani, sehingga pada acara peringatan agustusan akan menampilkan semua seni dengan kreasinya mereka.”

         Masbukin, 24 tahun ketua pawai dari Tlogopucang selatan, “Peringatan agustusan tahun ini kurang begitu semarak bahkan ada dusun yang tidak menampilkan karena situasi politik desa yang belum stabil paska pilkades, untuk itu kita menampilkan tumpeng besar ini dengan harapan semoga keselamatan dan kebersatuan desa akan kembali lagi,” pintanya.

         Mungkin apa yang dikatakan Masdukin itu benar, karena nampak dalam pawai tampil serombongan pengusung keranda jenasah dengan arak-arakan perpakaian serba hitam. Nampak tiga wanita pembawa bunga di depan keranda perpakaian serba hitam dan satu lelaki yang paling depan membawa papan nama bertuliskan ora luru biji, luru sangu pati.

         Anik, 16 tahun, sebagai salahsatu peserta pawai dengan pakaian petani dan membawa hasil pertanian, mulai dari kopi, salak, panili, kemukus. “semua hasil pertanian disini harganya baru turun, dan harapan pemerintah bisa membantu untuk menaikan harga.” Dengan nada penuh harap.(mukidi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s