Mading Stanplat di Mojosari

Posted: Juli 21, 2007 in Kabar Pikatan, Media PIKATAN

Mading Stanplat di Mojosari, Bansari

Mampukah Stanplat mendorong budaya membaca di masyarakat desa. Ujian pertama di umur satu tahun ini, membuka papan baca di desa-desa di seluruh kecamatan yang berjumlah 20 di Temanggung. Bagaimana respon penduduk sendiri dengan adanya papan baca?

Memasuki umur satu tahun, Stanplat punya gawe memasyarakatkan minat baca di desa. Desa pertama yang menyambut ide awak Stanplat untuk membuka papan baca ialah desa Mojosari kecamatan Bansari.

Di luar dugaan, itulah kata pertama yang terucap awak Stanplat tatkala memasang Stanplat edisi satu tahun di papan baca dusun Kwagean, desa Mojosari, Bansari. Saujana orang-orang berdesakan untuk membaca Stanplat. Sampai-sampai perangkat desa tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan.

Entah karena ini barang baru atau memang masyarakat desa sudah haus dengan bacaan. Karena perlu dimaklumi pengecekan Stanplat ke desa ini, dari seluruh penduduk yang berlangganan koran cuma satu orang, itu saja dua tahun yang lalu. Dan latar belakangnya guru SLTP di Parakan.

Dan lebih dari sembilan piluh prosen penduduk adalah petani. Dan sebelum ada papan baca, Stanplat cuma beredar empat eksemplar antara lain di Mudhofar, SH. Sekretaris desa, Muhadi, mantan kades, Sabariyanto, mantan Kaur pemerintahan dan Drs. Muhamad Abdur Rozak, petani.

Sementara, Puji Astuti, 43 tahun, Kades desa Mojosari antusias sekali saat ditemui Stanplat untuk diajak kerja sama pembuatan papan baca Stanplat.

“Monggo, semoga bermanfaat untuk desa. Masyarakat jadi gemar membaca,” katanya kepasa Stanplat yang menemuinya pertengahan Juli lalu.

Winda, 15, kelas satu SMK 17 Temanggung penduduk Jlamprang, Mojosari menyatakan kegembiraannya dengan adanya Stanplat masuk desa. Wah, aku seneng sekali, ada berita-berita Temanggung. Malah desa-desa dekat sini ada yang masuk di koran. Hal senada juga dikatakan Izza, 12 siswa MTsN Mandisari Parakan, anak Kwagean, Mojosari yang rumahnya berjarak 200 meter dari tempat papan baca Stanplat.

“Wah asyik bisa baca gratis,” katanya dengan nada gembira.

Lain lagi dengan Waki,37, seorang penambal ban yang ditemui Stanplat saat membaca di papan baca.”O. opo tho .. Koran? Eh, ini ada Yu Tiek, eh misakke.”

Komentar lugu ini ke luar dari mulut Waki, yang kebetulan membaca Dompet Pirukunan Stanplat edisi, 12. Dan Yu Tiek yang dimaksud adalah Suparti yang kebetulan tetangga desa.”Bagaimana Mas Waki, senang ada papan baca?” tanya Stanplat.

“Senang Mas, nanti setiap diganti saya tak baca wong gratis, tho?”

Sementara Muhamad Abdul Rozak, 40 tahun, yang akrab dipanggil Pak Mad yang sudah berlangganan empat penerbitan ini berkomentar, “Semoga ini bisa membawa kemajuan desa. Stanplat yang aku terima setiap bulannya sangat bermanfaat untuk informasi Temanggung. Ibuk mertua saya saja selalu tanya jika Stanplat belum datang. Istri saya juga begitu, sepertinya Stanplat itu mingguan.”

Tiga hari setelah pemasangan Stanplat di papan baca, Stanplat menyempatkan diri mendatangi desa Kwagean. Terlihat ada satu orang sedang membaca di papan baca. Saat itu pukul empat lebih lima menit sore hari.

Kalau antusias masyarakat desa Mojosari begitu menggebu, ini merupakan test case untuk desa-desa yang lain. Kapan desa lainnya membuat papan nama baca? Sederhana saja, dari papan triplek terus dikasih kawat ram setelah itu hubungi Stanplat. Dengan senang hati Stanplat akan memberikan beberapa eksemplar untuk dipasang di papan. Siapa segera menyusul? (muhisom s)

Iklan
Komentar
  1. nama : febri yadi muhajir
    kelas : IX – 3 ( sembilan tiga )
    MTsNEGERI CIRUAS

    Cara Membuat Web. yang baru gimana sh aku pengen tahu cara hubungin ke Surat yahoo mail.com alamat E – mail ku. febri_muhajir_febri_fm@yahoo.com / syahidut_syahidut88@yahoo.com harus dikirim. ke surat yahoo mail.com ya aku mohon ini penting

  2. aziz berkata:

    saya sebagai warga temanggung tepatnya di desa Balesari Bansari merasa senang dan bangga,dengan kemajuan kota tercinta.apalagi dengan harga tembakau musim ini sangat baik.namun yang disayangkan oleh saya adalah masalah pendidikan yang masih minim di daerah saya,yang sering kita lihat bagi para perempuan/gadis yang baru lulus SD/SMP langsung menikah.dan itu fenomena yang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat kita.kalau dihitung-hitung lulusan SMA atau bahkan lulusan PT itu bisa dihitung pakai jari disetiap desa.kebanyakan orang tua sering beranggapan bahwa anak gadisnya”ngopo to sekolah duwur-duwur paling yo nang pawon” itulah pemikiran yang sempit dan mereka sering memikirkan biaya yang tinggi dan merasa tidak mampu.memang di daerah kita penduduknya adalah petani dan buruh,tapi kalau kita punya keinginan kuat untuk belajar kita pasti punya jalan untuk mencari dana/biaya dalam mencari ilmu.kita bisa belajar sambil kerja,dan itu banyak dilakukan oleh mereka yang pemikirannya maju.tidak selalu menggantungkan orang tua dan ingin hidup mandiri.banyak kita jumpai anak gadis yang baru berumur 15-19 tahun sudah mempunyai anak,padahal pada usia itu saat-saat mereka duduk di bangku sekolah.dengan pendidikan rendah kita tidak bisa bersaing di era globalisasi saat ini.seiring kemajuan teknologi ada media untuk belajar dan mencari informasi seperti: tv,radio,hp,komputer dan internet.dengan internet kita bisa melihat dunia.cukup sekian komentar saya,semoga berkenan untuk anda baca.matur nuwun

  3. mojoblog berkata:

    tak pikir, mojosari- mojokerto karena di mojokerto juga ada mojosari ee..h tak tahunya Di Temanggung. tapi gk pa2, salam tuk temen2 di temangung, maju terus bangsa indonesia melalui budaya membaca…!

  4. adi_temanggung berkata:

    dengan didirikannya PIKATAN, ini apakah perkumpulan ini sebagai sarana politik, mengingat sembentar lagi akan ada hajatan demokrasi di kabupaten temanggung kota tercinta kita ini, saya pribadi berharap PIKATAN ini adalah sebagai sarana organisasi perkumpulan para perantau sebagai wujud pertalian silaturahmi antarwarga temanggang yang ada di luar temanggung maupun ditemanggung sendiri dimanapun berada, bukan sebagai sarana kendaraan politik kelompok tertentu atau sebagai sarana ketidakpuasan/kekecewaan terhadap kondisi yang terjadi ditanah kelahiran kota tercinta ini

  5. pikatan berkata:

    Terimakasih atas komentarnya.

    Dalam hal politik, baik sikap politik keseharian maupun Pilkada, PIKATAN sudah mengambil garis yang jelas, yakni independensi. Istilah kendaraan politik tidak ada dalam pikiran pengurus PIKATAN. Lebih jelasnya bisa dilihat dalam AD/ART. Independensi itu sebuah harga mutlak. Bagaimana mungkin kita akan memerankan sikap kritis dalam mengontrol jika memihak salahsatu kandidat?

    salam
    Fahrudin

  6. kaka^ berkata:

    saya adalah anak mozar(mojosari).

  7. harry berkata:

    duh merasa malu sebagai wargo asli temanggung, dan ckp lama mngenal dunia cyber, baru skrg kumendatkan info yg menarik. wadah yg semoga representatif buat anak2 temanggung, yang tetap dan masih peduli dan cintanya pada bumi temanggung tercinta. apalagi nasip seperti saya yg terkutuk (atau anugerah) senantiasa jauh-dekat dgn temanggung karena tuntutan idup yakni kerja. tapi mungkin saya msh beruntung karena saya tetap eksis menjadi warga temanggung, tak goyah oleh gemerlapnya kota-kota (indah) lain. karena temanggung tetap bersemayam terindah dan terdalam disanubari. dan seperti yg lainnya sayapun mengharap , menginginkan temanggung makin dan semakin bagus. meski efek negatif gelombang ygbernama modernisasi atau globalisasi menerjang tanpa bisa kita elakkan. tapi kita harus yakin dan percaya kita bisa membuat hari esok baik, akuuurrrr…. anyway saya pun amat minat utk nanti berlangganan berita mingguan ini. semoga berjaya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s