Media Lokal Jadi Bacaan Utama

Posted: Mei 20, 2007 in GLOKALITAS, Pikatan & Gerakan Lokal

SUARA MERDEKA: Pandangan orang di luar Amerika Serikat bahwa surat kabar seperti New York Times atau Washington Post merajai pasaran koran di AS tidak sepenuhnya benar.

munyuk-dan-stanplat.jpg

Kehausan informasi akan berita lokal masih menempatkan koran lokal sebagai bacaan utama, selain internet, di negara Paman Sam itu. Hal tersebut diungkapkan dosen Arizona State University (ASU), Prof Craig M Allen, saat berkunjung ke kantor redaksi Suara Merdeka Jl Kaligawe Km 5 (13/7/2006).

Craig didampingi dosen FISIP Undip Dyah Pitaloka dan Amiruddin. Dalam diskusi yang dipandu Wapemred Amir Machmud NS dan dihadiri jajaran redaksi itu, Craig mengaku kagum dengan Suara Merdeka yang memiliki edisi satu koran utama dan lima koran lokal. Menurut dia, di AS tidak ada koran yang seperti itu. Craig menuturkan, ada beberapa surat kabar di AS yang dipasarkan secara nasional. Untuk menarik perhatian pembaca, lanjut dia, koran berskala nasional itu memuat berita-berita yang diambil dari koran lokal setempat. Media lokal, tambahnya, memiliki keunggulan dalam menyebarkan informasi kepada masyarakat. “Media yang memahami kebutuhan masyarakat setempat, ya media lokal, ” katanya.

Bersaing dengan Internet

Ia juga mengungkapkan, karakteristik masyarakat AS masih menempatkan berita lokal sebagai sumber informasi utama. Karena itu, oplah koran berskala nasional cenderung menurun dari waktu ke waktu. Menurut Craig, saat ini saingan koran lokal di AS bukanlah koran nasional, melainkan internet. “Kebutuhan masyarakat akan informasi cepat saji terus meningkat,” ujarnya. Kehadiran Craig mendapat sambutan dari jajaran redaksi. Salah satu dialog yang muncul adalah terkait dengan tren tabloidisasi pada era global. Koran menampilkan berita-berita soft (tidak serius) di halaman utama, dan bukan lagi di halaman belakang.

Apa tanggapan mantan jurnalis di Arizona Republic itu? Menurut Craig, di AS tidak terjadi tabloidisasi. “Ada tiga media, yakni elite, menengah, dan bawah. Nah, tabloidisasi hanya terjadi di tataran media bawah,” ujarnya. Seusai berdiskusi, dia melihat-lihat dapur redaksi, dari meja redaktur, ruang lay out, hingga mesin cetak. Ia juga diberi kenang-kenangan buku kumpulan tajuk Suara Merdeka yang diserahkan Redaktur Pelaksana Zaini Bisri.

Premanisme

Saat menjadi pembicara di Gedung PWI Jateng Jl Tri Lomba Juang, Craig memaparkan kedudukan media dalam komunitas masyarakat AS.

“Selain presiden, kongres, dan pengadilan, media adalah lembaga tidak resmi (nonpemerintah) yang memiliki pengaruh sangat besar di AS,” tuturnya. Muncul pertanyaan dari jurnalis TVRI Jawa Tengah mengenai aksi massa atau penggerudukan terhadap sebuah kantor media. Premanisme itu terjadi karena media tersebut memuat berita yang dinilai merugikan suatu kelompok masyarakat. Pendapat sodoran pertanyaan tersebut, Craig justru kaget. Ia mengatakan, di AS kebebasan mengeluarkan pendapat dan berekspresi dijamin oleh undang-undang dasar. “Artinya, masyarakat memiliki kebebasan seluas-luasnya dalam menyampaikan pendapatnya dan beradu argumentasi, dan hak-hak mereka dilindungi oleh negara,” tandasnya. Namun, sambungnya, media dituntut memiliki tanggung jawab baik secara moral maupun sosial. Jadi, sebebas-bebasnya media di AS dalam menyuguhkan berita, para pelaku jurnalistik juga harus mematuhi kode etik yang sudah ditetapkan. (H11-60n)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s