Komunitas atawa Kadang?

Posted: Mei 12, 2007 in kisah dibalik Pikatan

Berkenaan dengan pembahasan nama organisasi, ada dua istilah penting yang akan dipakai. Komunitas dan Kadang. Berikut ini diskusi para calon pendiri PIKATAN di millist. (baca dari bawah):
=======================

Pada akhirnya saya tetap setuju dengan mekanisme voting. Namun demikian saya lebih setuju jika kita mengandalkan rasionalitas dalam hal-hal ini. Alasanya yang diperdebatkan bukan soal substansi gerakan melainkan istilah-istilah. Karena saya percaya bahwa bahasa adalah ilmu pengetahuan maka sebaiknya kita kembalikan esensi istilah-istilah tersebut melalui penalaran.

Saya harap, setiap usulan seperti ini ada alternatif yangs ifatnya solutif. Misalnya susi kurang ngeh dengan istilah independen. Maka kita harapkan dia mencari istilah lain yang dianggap lebih ngeh. Nah dengan cara itu saya kira lebih efektif untuk menentukan kesepatakan.

Oke, silahkan dilanjut. Nanti sore saya kirimkan penjelasan saya mengenai perbedaan kadang dengan komunitas.

salaman
faiz

AE Priyono <kalatida@yahoo.com> wrote:

Poro sedulur …

Sampai sejauh ini tampaknya kita baru menyepakati satu hal: Perkumpulan. Bahwa organisasi ini akan berbentuk badan hukum perkumpulan, sebagian besar kita sudah setuju. Tapi tentang namanya, kita masih belum mencapai titik temu. “Temanggungan” masih dipersoalkan — masih terasa katrok, kata Mas Adi; “Komunitas” juga belum semuanya setuju, Pak Dany masih bertahan dengan ide “kadang”-nya; dan belakangan “Independen” juga masih dianggap “kurang pas di hati”-nya mbak Susi.

Salah satu cara untuk mencapai kata putus adalah melalui voting. Tapi bagaimana caranya? Kapan dilakukan? Di mana? Siapa saja yang berhak punya suara? Mungkin ada baiknya dicoba prosedur e-democracy, melalui milis ini. Mas Andy Yoes bisa ikut membantu memfasilitasinya?

 

AE

 

—– Original Message —-
From: ivvaty <ivvaty@kompas.co.id>
To: TMG-news-mail@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, March 21, 2007 2:21:42 PM
Subject: Re: [STANPLAT news-room] PIKATAN: Komunitas atau Kadang?

Nimbrung sedikit. Bukan perkumpulannya yang jadi masalah, tapi independen-nya. Gak matching aja, kurang pas di hati. Mungkin, karena independen masih terasa sangat kental nuansa serapannya, dari Bahasa Inggris.

—– Original Message —–

From: Wiratmo

To: TMG-news-mail@ yahoogroups. com

Sent: Wednesday, March 21, 2007 1:56 PM

Subject: Re: [STANPLAT news-room] PIKATAN: Komunitas atau Kadang?

Terimakasih Pak AE atas jawabannya. Hanya saya kok merasa kalau singkatannya Perkumpulan Independen Komunitas Temanggungan kok sedikit terasa agak gimana gitu ya. Temanggungan ki kok terasa dan terkesan tidak serius, santai, ndeso, lan katrok kali ya hahaha ? Kata Temanggungan terasa tidak bisa mengimbangi 3 kata sebelumnya. Tapi bagaimanpun saya tetap dukung keputusan suara terbanyak.

 

salam,

-adi-

—– Original Message —-
From: AE Priyono <kalatida@yahoo. com>
To: TMG-news-mail@ yahoogroups. com
Sent: Tuesday, March 20, 2007 11:47:04 AM
Subject: Re: [STANPLAT news-room] PIKATAN: Komunitas atau Kadang?

Tentu saja saya mendukung Anif yang memilih “komunitas.” Istilah “kadang,” “brayat,” “pasederakan, ” atau “paseduluran” dan sejenisnya itu terasa sekali paguyubannya. Padahal dalam imaginasi saya, Perkumpulan PIKATAN lebih berkarakter patembayan daripada sekadar paguyuban. Masih ingat kuliah sosiologi tentang perbedaan “gesselschaft” dan “gemeinschaft” ?

Istilah “komunitas” juga lebih dekat pada gagasan tentang “civic participation” daripada sekadar “civil participation. ” Meskipun sama-sama merupakan organisasi sosial berbasis masyarakat, konsep “komunitas” lebih bisa mencerminkan gagasan untuk partisipasi aktif warga yang berwatak egaliter, ketimbang “kadang” yang — maaf — masih mengandung di dalamnya sentimen-sentimen komunalisme …

 

AE

 

—– Original Message —-
From: anif punto <anifpunto@yahoo. com>
To: TMG-news-mail@ yahoogroups. com
Sent: Tuesday, March 20, 2007 10:51:00 AM
Subject: Re: [STANPLAT news-room] PIKATAN: Komunitas atau Kadang?

Aku milih komunitas wae…ben kadang temanggungan untuk IKT

salam

anif

Faiz Manshur <nyongfaiz@gmail. com> wrote:
PIKATAN= Perkumpulan Independen KomunitAs Temanggung AN atau Perkumpulan Independen KAdang TemanggungAN ?

Sampai sekarang menurut saya ini belum diputuskan mau pakai yang mana?

Usul Mas Danny adalah memakai nama KAdang, sedangkan sebelumnya kita mengacu pada usulan Mas AE, Komunitas.

Saya kira teman-teman bisa menjatuhkan pilihannya. Mohon bisa ditetapkan dalam sampai hari Rabu tgl 21 mendatang. Hal ini berkaitan dengan rencana publikasi PIKATAN di Stanplat.

Saya tunggu.

Faiz

Iklan
Komentar
  1. pikatan berkata:

    Pertemuan Kalibata II (3 Maret 2007) telah menyepakati PIKATAN
    (Perkumpulan Independen Komunitas Temanggungan) sebagai nama
    perkumpulan.

    Belakangan muncul tanggapan dan usulan untuk mengganti penggunaan
    istilah Independen, Komunitas, dan Temanggungan.

    Gagasan voting untuk mengganti istilah tersebut saya setuju, namun
    harus dicari dulu kata padanannya untuk pilihan alternatif, dengan
    huruf awal yang identik agar sesuai dengan singkatannya.

    Monggo ditunggu usulan istilah2 tersebut sampai besok Jumat jam
    13.00 wib.

    Salam

    Andy Yoes

  2. pikatan berkata:

    dik2 aku tak coba usul / kasih gambaran secara bodon /awam yo…

    Sebutan ” KADANG ” / Sedulur Temanggung sudah sangat kental dg arti paseduluranne wong2 Temanggung dimana saja mereka berada di seluruh tanah air ini mungkin bahkan di luar negeri .

    Tembunge ngene ” Kadang Temanggung sing nang njero wadah ” PIKATAN ” /

    P erkumpulan I ndependen KA dang T emanggung An , mempunyai banyak Komunitas orang2 Temanggung yang sudah mapan ataupun yang masih berjuang , yang bekerja maupun yang sudah menciptakan pekerjaan , dan nama KADANG bukan milik satu kelompok , dan salah satu Komunitan PIKATAN yang sudah berkarya adalah : Product STANPLAT , dan kedepan InsyaAllah PIKATAN makin berkembang bisa punya karya2 Komunitas yang pakar di dunia :EO , Programer , Adv.Agency, RM Temanggung , Photoghraper , menerbitkan tabloit pariwisata, dll

    Sebab dik dimanapun kalau orang2 Tmg lagi ngumpul, mereka mengatakan lagi kumpul2 /

    kumpuk kadang temanggung di …….,PIKATAN adalah nama yang Pas sebab merupakan Trade Mark Temanggung ,orang Temanggung pasti tau persis PIKATAN , dan nama PIKATAN pasti akan mengingatkan kita tentang Temanggung , dan sekarang PIKATAN adalah wadah untuk kangen2an ,konsolidasi, komunikasi ,koordinasi dan tempat menampung ide2 cemerlang bahkan ide2 gila sekalipun bagi seluruh sedulur Temanggung

    dimana saja berada,Tapi tidak ada salahnya nama yang akan kita pakai nanti di konsultasikan dg kadang yg lain /senior yang di Temanggung , jangan ter buru2 membuat organisasi / apapun namanya dan memilih pengurus dan pemimpin ,saya minta kesemuanya nanti yang bisa diterima oleh lintas kadang kita semua di seluruh indonesia , jujur dik…. jangan sampai membuat kesalahan lagi ..

    baik … saya doakan success semua ya..

    Salam

    Danny

  3. pikatan berkata:

    FAIZ:
    Soal Komunitas atau Kadang. Saya rasa masing-masing sudah punya penjelasan bahwa dua istilah ini sebenarnya tidak bermasalah. Hanya saja kemudian muncul keinginan untuk memilih salahsatu dari dua istilah itu yang lebih ideal.

    Bagi saya, komunitas lebih ideal ketimbang kadang. Beberapa alasan di antaranya sudah dijelaskan Mas AE, diperkuat oleh Mas Anif. Saya sendiri akan memperkuat dengan pendapat bahwa, komunitas lebih menyentuh cita rasa para aktivis PIKATAN yang berpandangan modern, penuh dengan gelora perkawanan/kekadangan dan memiliki imajinasi serta visi yang lebih maju ketimbang sekedar kadang (yang artinya sebatas peseduluran, kekerabatan, an sich) Komunitas lebih memiliki bobot karena bersandar pada arti (kamus) sebagai “kesatuan yang terdiri atas individu-individu’ masyarakat. Sebagaimana yang telah dijabarkan Sdr AE priyono dalam penjelasan Anggaran Dasar PIKATAN, …”PIKATAN bersifat terbuka dan memperlakukan setara setiap pihak dari berbagai ras, suku, agama, warna kulit, aliran politik, gender, latar belakang sosial ekonomi dari seluruh warga masyarakat Temanggung untuk menjadi anggota, pengurus, mitra kerja maupun untuk mengambil peran dalam organisasi ini dalam rangka memajukan tujuan pembentukan PIKATAN….”

    Dengan demikian kata komunitas ini sebenarnya lebih luas maknanya ketimbang sekadar kekadangan/paseduluran. Keleluasaan ini berdampak positif bagi PIKATAN karena secara otomatis kekerabatan dalam komunitas tetap mendapat tempat yang sangat layak. Sedangkan istilah kadang bisa bermakna sebaliknya; individu-individu -yang barangkali tidak termasuk sedulur bisa jadi agak kurang mendapat tempat di kadang. (ini penjelasan linguistic lho…) Tentu saya tidak yakin para kadang mengabaikan individu yang tidak termasuk sedulur. Saya tetap yakin apapun bentuknya organisasi, pasti memberikan rasa kenyamaman bagi siapa saja, termasuk yang bukan sedulur (pertalian darah) (hati….hati, jangan salah paham ya?)

    Nah, apakah dengan memakai nama komunitas ikatan kekadangan temanggung perlu kita khawatirkan?

    Saya kira tidak perlu. Bagi saya, guyub, paguyuban, kadang, kekadangan tidak harus didikotomikan apalagi dibentur-benturkan dengan istilah-istilah modern yang lebih ngeh di kalangan kaum (berjiwa) muda dan bagi mereka yang berpikir maju, transformatif dan emansipatif.

    Dalam paguyuban pun kemungkinan karakter/watak progresifitas juga bisa kita wujudnya. -Namun maaf, sampai sekarang saya tidak melihat kecenderungan (organisasi) Kadang-Temanggung melakukan hal itu.

    Dengan melabeli dengan istilah komunitas, saya kira ini akan menjadi tantangan para pengurus PIKATAN agar tetap berpikir visioner dan terus berada dalam suasana kekadangan.

    Selama ini saya melihat bahwa organisasi paguyuban yang gagah melabeli dengan istilah kadang sering kali punya dalih untuk tidak melakukan kerja sosial yang lebih modern, maju dan progresif. Alasan yang sering saya dengar, “mas, kita kan cuma paguyuban…kita kan cuma klangenan….” Ya, alasan yang sangat logis tentunya karena memang pada dasarnya organisasi itu sangat ditentukan oleh nilai-nilai dasarnya.

    Kalau paguyuban dijadikan gerakan sosial justru nanti malah muncul anggapan menyalahi tradisi kekadangan. Sedangkan sebaliknya, kalau PIKATAN yang notabene komunitas indipenden ini hanya untuk acara guyub nan klangenan kelak pengurusnya bisa terkena kritik serius. Mosok perkumpulan indipenden comunity kerjanya cuma baksos? cuma nanggap jaran kepang? Haha….

    Bagi saya baksos atau acara klangenan lain juga bukan hal yang perlu dikritik. Saya hanya ingin mengkritik bahwa kalau sudah menyatakan diri sebagai kelompok yang memiliki potensi (seperti yang dinyatakan dalam home-millist IKT) aktivitasnya sebatas itu-itu saja jelas patut disayangkan. Buat apa banyak potensi kalau aktivitasnya setara dengan kelompok yang tidak potensial?

    Demikian juga dengan istilah primordialisme tidak perlu kita hindari. Bagi saya, primordialisme adalah basis kultural yang sangat menjanjikan untuk kerangka pijakan gerak PIKATAN. Organisasi yang besar di Indonesia, seperti NU dan Muhamadiyah, termasuk partai-partai politik yang besar seperti PAN, GOLKAR, PDIP dan PKB semua mendasarkan diri pada primordialisme. Organisasi-organisasi yang terlalu menonjolkan modernitas dan profesionalitas tanpa mempertimbangkan basis cultural seperti primordialisme, paguyuban, kekadangan dengan sendirinya akan terbonsai dan tidak akan mampu merakyat.

    Nah, PIKATAN dengan komunitas akan menjadi satu wadah pergerakan yang lebih menjanjikan dengan tetap tidak meninggalkan tradisionalitas seperti paguyuban, kerja bakti sosial dan temu klangenan. Itu adalah basis-basis yang mesti dijadikan pijakan gerak PIKATAN. Dan saya tegaskan, bahwa saya adalah orang yang termasuk pro paguyuban, pro klangenan dengan catatan selalu menekankan asas manfaat sosialnya. Jika klangenan dan kekadangan tidak menunjukkan manfaat sosial bagi masyarakat saya pun tegas menolak beraktivitas.

    Jujur saja, Stanplat sudah banyak berperan dalam menghidupkan kekadangan yang dalam hal ini. Kalau Staplat anti guyub, anti tradisionalitas barangkali tidak akan ada rubric guyub. Selama ini apapun bentuk organisasinya, entah ndeso, sekadar klangenan, non progresif, tetap kita berikan tempat di Stanplat. Dan saya sendiri merasa bahagia bisa dengan banyaknya acara guyub-guyub yang seperti itu.

    Kelak PIKATAN juga tidak akan meninggalkan hal-hal seperti ini. Hanya saja PIKATAN punya tanggungjawab yang besar, yang lebih modern, rasional dan progresif sehingga bisa memberikan konstribusi kepada setiap paguyuban Temanggung, di seluruh Indonesia,-termasuk memberikan konstribusi kepada IKT.

    Saya kira bapak-bapak yang lebih sepuh tidak akan merasa ditinggalkan hanya karena kita memilih istilah komunitas daripada memilih istilah kadang. Bagi saya, diterima atau tidaknya suatu kelompok itu bukan tergantung pada istilah (kecuali jika istilahnya adalah Komunis,-bukan komunitas). Yang terpenting dalam menjalin kekadangan adalah kemauan kita bersikap baik, menjelaskan secara bijak, para pengurusnya bersikap gaul dan arif serta tidak melanggar aturan-aturan organisasi yang telah kita tetapkan.

    PIKATAN memang cenderung berwajah modern, dinamis dan kemuda-mudaan. Namun demikian PIKATAN tidak akan mengabaikan para sepuh. Justru para sepuh itulah yang kelak akan melihat bahwa anak-anaknya lebih maju dari pada mereka kemudian mereka bangga bahwa anak-anaknya telah melakukan kerja sosial yang bermanfaat bagi Temanggung.

    Di luar itu, kata Independen dan Komunitas akan lebih nyaman di dengar komunitas non Temanggung. Kita harus ingat bahwa gerakan sosial yang dibangun PIKATAN tidak sebatas memberikan “inisiatif” kepada masyarakat lokal di temangung, melainkan juga mendorong gerakan lokal di daerah lain. Saya benar-benar bangga jika dengan SDM yang kita miliki ini benar-benar solid dan bisa menjadi percontohan kabupaten-kabupaten lain untuk berbuat sebagaimana yang kita lakukan.

    Demikian yang saya sampaikan.

    Pada akhirnya saya harus memilih PIKATAN, sebagai Perkumpulan Independen Komunitas Temanggungan.

    Terimakasih

    Monggo dilanjut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s