Fukuyama soal Akhir sejarah

Posted: Maret 25, 2007 in Wacana Gerakan Lokal
Sejarah di Akhir Sejarah
Oleh: Francis Fukuyama

Lima belas tahun yang lalu dalam buku The End of History and the Last Man, saya mengatakan, bila suatu masyarakat ingin menjadi masyarakat yang modern, tidak ada pilihan selain merangkul ekonomi pasar dan sistem politik yang demokratis. Memang tidak semua masyarakat ingin menjadi masyarakat yang modern dan tidak semua masyarakat mampu membangun lembaga dan kebijakan yang diperlukan bagi keberhasilan demokrasi dan kapitalisme yang dirangkulnya, tapi tidak ada sistem lainnya yang memberikan hasil yang lebih baik.

Karena itu, walaupun The End of History pada dasarnya merupakan argumentasi tentang modernisasi, ada orang yang mengaitkan tesis saya tentang akhir sejarah ini dengan kebijakan luar negeri Presiden George W. Bush dan hegemoni strategis Amerika. Tapi mereka yang mengira bahwa gagasan yang saya ajukan itu merupakan fondasi intelektual kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah Bush tidak mengamati apa yang telah selalu saya katakan sejak 1992 tentang demokrasi dan pembangunan.

Presiden Bush pada awalnya mencari pembenaran atas campur tangannya di Irak dengan mengemukakan apa yang dikatakannya sebagai program pengembangan senjata pemusnah massal oleh Saddam Hussein, keterkaitan Saddam dengan Al-Qaidah, serta pelanggaran yang dilakukan Irak terhadap hak asasi manusia dan tidak adanya demokrasi di negeri itu. Ketika dua alasan yang pertama runtuh setelah invasi Amerika pada 2003, Bush semakin menekankan pentingnya demokrasi, baik di Irak maupun di Timur Tengah pada umumnya, sebagai rationale bagi apa yang telah diperbuatnya.

Bush berargumentasi bahwa hasrat memperoleh kebebasan dan demokrasi itu ada di mana-mana dan bukan terbatas pada suatu budaya, dan bahwa Amerika akan dengan teguh mendukung gerakan demokrasi “dengan tujuan akhir menghapuskan tirani di muka bumi”. Para pendukung perang di Irak menyaksikan benarnya pandangan-pandangan yang mereka kemukakan pada jari-jari bernoda tinta para pemilih di Irak yang berbondong-bondong memberikan suaranya dalam berbagai pemilihan yang dilakukan antara Januari dan Desember 2005, pada Revolusi Cedar di Libanon, dan pada pemilihan presiden dan parlemen di Afganistan.

Walaupun peristiwa-peristiwa yang terjadi ini membesarkan hati dan memberikan harapan, jalan menuju demokrasi di Timur Tengah mungkin sekali akan mengecewakan di masa dekat ini atau sesudahnya, dan upaya pemerintah Bush membangun suatu kebijakan regional berdasarkan semua itu akan mengalami kegagalan total.

Memang hasrat untuk hidup dalam suatu masyarakat yang modern dan bebas dari tirani itu ada di mana-mana atau kira-kira begitulah adanya. Ini dibuktikan oleh upaya jutaan orang setiap tahun untuk hijrah dari dunia berkembang ke dunia maju dengan harapan akan menemukan stabilitas politik, peluang kerja, pelayanan kesehatan, dan pendidikan, yang tidak mereka peroleh di tanah airnya.

Tapi ini tidak sama dengan mengatakan ada hasrat di mana-mana untuk hidup dalam suatu masyarakat yang liberal–yakni, dalam suatu tatanan politik yang dicirikan oleh semangat hak individu dan rule of law. Hasrat untuk hidup dalam suatu demokrasi liberal, memang, merupakan sesuatu yang berkembang setelah sekian waktu, sering kali sebagai produk sampingan dari modernisasi yang berhasil.

Lagi pula, hasrat untuk hidup dalam suatu demokrasi modern dan liberal tidak perlu terwujudkan dalam kemampuan untuk benar-benar berlaku demikian. Pemerintah Bush dalam pendekatannya terhadap Irak pasca-Saddam tampaknya berasumsi bahwa baik demokrasi maupun ekonomi pasar sudah merupakan default, suatu kondisi ke arah mana suatu masyarakat akan kembali begitu tirani yang menindas itu dapat disingkirkan, bukan sebagai serangkaian lembaga yang kompleks dan bergantung satu sama lain, lembaga-lembaga yang harus dibangun dengan susah payah dalam jangka waktu yang lama.

Sebelum ada demokrasi liberal, perlu ada suatu bentuk negara yang berfungsi (sesuatu yang tidak lenyap di Jerman atau Jepang setelah mereka dikalahkan dalam Perang Dunia II). Inilah sesuatu yang tidak bisa dianggap begitu saja ada di negeri-negeri seperti Irak.

The End of History tidak pernah dikaitkan dengan suatu model organisasi sosial atau politik khas Amerika. Mengikuti pandangan Alexandre Kojève, filsuf Rusia-Prancis yang mengilhami argumentasi yang saya kemukakan sejak awal, saya percaya Uni Eropa mencerminkan dengan lebih akurat bentuk dunia pada akhir sejarah, bukan Amerika Serikat pada bentuknya saat ini. Upaya Uni Eropa melintas sekat-sekat kedaulatan dan politik kekuasaan yang tradisional dengan membentuk suatu rule of law yang melintas batas-batas negara jauh lebih selaras dengan dunia “pasca-sejarah” daripada keyakinan Amerika yang teguh berpegang pada kepercayaan kepada Tuhan, kedaulatan nasional, dan kekuatan militernya.

Akhir kata, saya tidak pernah mengaitkan munculnya demokrasi secara global berkat tangan-tangan Amerika, dan terutama sekali bukan karena kekuatan militer Amerika. Peralihan menuju demokrasi perlu didorong oleh masyarakat yang menginginkan demokrasi itu sendiri. Dan karena demokrasi memerlukan lembaga-lembaga, ia biasanya merupakan suatu proses yang cukup panjang dan lama.

Kekuatan-kekuatan luar seperti Amerika Serikat sering kali bisa membantu dalam proses ini dengan contoh yang mereka tunjukkan sebagai masyarakat yang berhasil secara politik dan ekonomi. Mereka juga bisa memberikan dana, nasihat, bantuan teknik, dan, ya, sekali-sekali kekuatan militernya untuk mendorong maju proses ini. Tapi perubahan rezim yang dilakukan dengan kekerasan sama sekali bukan kunci tercapainya peralihan menuju demokrasi. *

*) Copyright: Project Syndicate/The American Interest, 2007. URL Source: http://korantempo.com/korantempo/2007/04/23/Opini/krn,20070423,56.id.html

Francis Fukuyama
Dekan School of Advanced International Studies, Johns Hopkins University, dan Ketua The American Interest *)

Iklan
Komentar
  1. yanto berkata:

    perubahan rezim dengan cara kekerasan dari tiran menjadi demokrasi jelas-jelas telah menodai nilai-nilai dari demokrasi itu sendiri. seharusnya demokrasi mengantarkan pada kehidupan yang lebih humanis, santun, dan terhindar tindakan yang merugikan orang lain. model sepertinya telah merubah dari demokrasi menjadi democrazy.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s